Bertengkar antara pasangan? Bukan hal yang buruk. Bertengkar bahkan sebuah hal yang sangat baik, saat diarahkan ke yang bermanfaat dan dilakukan dengan fokus dan cara yang sehat. Berikut beberapa hal yang patut untuk dipertimbangkan oleh pasangan, sehubungan dengan pertengkaran.
1. Saya permasalahkan karena saya sayang kita berdua!
Ingat, bahwa komplain adalah tanda peduli. Kita komplain karena kita ingin sesuatu berubah demi kenyamanan bersama. Saya ulangi, kenyamanan bersama. Tidak semua pasangan bercuap-cuap hanya untuk kenyamanan sendiri. Ingat bahwa saat Anda berdua, kenyamanan bersama adalah yang penting. Masing-masing punya keinginan, karena itu kompromi adalah jalan tengah yang masuk akal! Ingat, bahwa kita justru harus berterimakasih pada pasangan saat ia protes atau mempermasalahkan sesuatu, karena itu tanda bahwa ia peduli. Pasangan yang tidak peduli, entah pura-pura suka, pura-pura tidak tahu, membisu, lalu melakukan hal-hal yang lebih merusak hubungan!
2. Kata-kata dan Perilaku Saya tidak Mewakili Niat Saya!
Emosi membuat pikiran tersumbat! Supply kata-kata maupun perilaku menjadi terbatas! Ini saatnya untuk saling sadar bahwa apapun kata-kata yang diucapkan dan bahasa tubuh yang ditunjukkan tidak mewakili NIAT sang pasangan. Keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, serta minimnya kedewasaan, bisa membuat masing-masing pasangan mengeluarkan kata-kata yang ‘bodoh’ atau menyakiti. Dan catat, bahwa itu sama sekali tidak mewakili dirinya dan NIAT-nya! Karena itu, stop menganalisa panjang dan membawa-bawa asumsi-asumsi yang tidak perlu! Kita semua pernah dan berhak untuk bertindak ‘bodoh’, teledor, canggung.
3. Meminta Maaf itu Tanda Peduli, Bukan Harus Berarti Rasa Bersalah
Saat pasangan saling bertengkar, yang sering dipancing adalah rasa bersalah di pihak pasangannya. Kepuasan bisa datang saat salah satu berhasil melemparkan rasa bersalah ke yang lain. Karena itu pula seringkali kata ‘maaf’ jadi sulit keluar, seolah dengan kata itu, kita jadi di pihak yang bersalah. Catat dan pertimbangkan ini: apakah masuk akal Anda tidak ingin diri Anda disakiti justru dengan menyakiti? Rasa bersalah itu menyakitkan, karena itu masing-masing tidak perlu saling melemparkan itu. Kata ‘maaf’ itu tanda peduli dan tidak perlu dihubungkan dengan rasa bersalah atau pengakuan bersalah. Itu tanda peduli dan sayang. Cukup di situ saja.
4. Memaafkan Tidak Sama dengan Membenarkan Perilaku Pasangan
Ini juga menjadi catatan penting. Seringkali pasangan tidak mau saling memaafkan karena seolah dengan melakukan itu, ia membenarkan perilaku pasangan yang menyebabkan pertengkaran tersebut. Padahal, memaafkan sama sekali tidak berarti membenarkan atau menyetujui perbuatan pasangan! Itu tanda kita sadar bahwa pasangan kita tidak sempurna dan kita peduli kebersamaan! Jadi memaafkan adalah hal yang sederhana sekali!
5. Pertengkaran itu Alat Pengenalan, bukan Ajang Tuntutan
Pertengkaran adalah ajang untuk mengenal dengan baik keinginan dan hasrat tersembunyi pasangan. Berterimakasihlah pada kesempatan untuk pengenalan ini. Seringkali keinginan asli pasangan keluar dalam argumentasi atau dalam protesnya. Dan ingat, ini bukan ajang menuntut. Ini ajang saling mengenai keinginan masing-masing! Berpasangan adalah ajang saling melengkapi dan sekaligus kompromi apabila terjadi perbedaan!
6. Rasa Sakit Hati Disebabkan karena Proses Berpikir Kita Sendiri!
Proses berpikir kita mengenai apa yang terjadilah yang menyebabkan kita sakit hati! Kita sakit hari karena akumulasi dari pemikiran kita menyangkut kejadian-kejadian sebelumnya, perasaan-perasaan sebelumnya, asumsi NIAT pasangan, memori kita, apa yang pernah kita dengar sebelumnya, asumsi yang terjadi berikutnya, di samping kasus yang terjadi. Jadi kita tidak melihat hal-hal apa adanya. Kita melihat dengan berbagai referensi dan asumsi, sehingga emosi kita meninggi. Kalau dia baru melakukan ini sekali, Anda tentu bereaksi berbeda bukan? Berarti Anda menilai dengan menjumlah kasus ini dengan asumsi sebelumnya! Berhentilah menghubung-hubungkan dan menganalisa yang tidak perlu! Sederhanakah kejadiannya!
7. Apapun yang Terjadi, Dia Adalah Pasangan Saya!
Kalau kehidupan berpasangan adalah sebuah gelas, Anda tidak akan bisa minum lagi dari gelas tersebut! Kalau itu adalah sebuah rumah, maka kerusakannya akan terlalu parah untuk bisa menghadapi badai yang lebih besar! Saat terjadi pertengkaran, ingatlah Anda akan kembali ke rumah itu, sebelum Anda melakukan hal-hal lebih bodoh lagi dan merusak rumah itu hanya agar Anda puas. Anda gores, Anda lukai, Anda tusuk terus-menerus, seorang pasangan yang baik dan sabar sekalipun, tetap akan terluka. Ingat, bahwa ia adalah pasangan kita! Lindungi dia, seperti Anda melindungi diri sendiri!
Memasuki satu tahun bersamanya banyak hal yang aku dapatkan. Berjuta cinta, sayang, perhatian, bahagia, dan tangis menemani kebersamaan kami untuk menyatukan 2 kehidupan yang berbeda. Kehidupan kami bisa dikatakan bahagia, bahagia setiap saat bisa bertemu, walau terkadang jemu, namun rasa sayang dan kangen ku melebihi itu semua. Aku pikir, seandainya kita lagi LDR (long distance relationship), pastinya tidak seleluasa ini untuk bertemu, pasti bakal menyiksa, ingin bertemu tapi tidak bisa. Atau hal terburuknya seandainya kami tidak akan pernah bertemu lagi selamanya, kehilangan kekasih hati, pasti sangat menyakitkan.
Setiap bertemu rasanya indah dan bahagia (apa engkau merasakan hal yang sama sayang?…). Bersyukur karena selalu diberikan perasaan sayang, cinta, rindu, rasa takut akan kehilangan. Karena itu yang membuat diri aku tetap semangat menjalani kisah ini dengan dia. Menunggu dengan sabar hingga saat yang dinanti-nanti tiba. Berkali-kali aku jatuh cinta padanya, apalagi saat dia marah melarangku untuk tidak berpikir yang berat, hanya agar untuk aku tidak sakit dan stress, marah karena aku makan sambal, hanya karena khawatir tyhpusku kambuh. Saat dia rela basah membersihkan jok motor yang baru kena hujan dan kududuki, hanya untuk agar aku tidak basah, haduh jatuh cinta lagi padanya.
Darinya aku belajar bahwa tak semua keinginan aku bisa dipenuhi. Aku belajar, bahwa saat aku menangis, aku tak harus selalu dihibur. Ada kalanya, aku harus belajar untuk paham, bahwa kekecewaan dia jugalah merupakan suatu bentuk hukuman. Dan saat air mata sudah habis, aku belajar untuk minta maaf. Aku belajar bahwa perasaan cemburu memang kerap kali tak masuk akal. Pun sangat irasional, aku belajar untuk jujur, pada apa yang aku rasakan. Sebaliknya aku juga belajar untuk menerima kecemburuannya berdasarkan hal-hal yang menurutnya signifikan. Dengan demikian, aku belajar untuk memakai ‘sepatunya’, untuk merasakan apa yang ia rasakan. Aku belajar untuk berempati. Aku belajar bahwa kami dibesarkan dari keluarga yang berbeda, dengan kebiasaan dan selera yang berbeda pula. Sehingga, aku belajar untuk mncari tahu sebelum membelikannya sesuatu. Aku belajar bahwa cinta tak membuat kami jadi dukun yang bisa saling membaca pikiran. Begitu juga saat kami bertengkar, aku belajar menjelaskan penyebab kekecewaan secara rasional. Untuk efek emosional yang disebabkan kekecewaan, aku belajar untuk mengunyahnya, sebelum dilontarkan. Meski dalam jangka waktu yang cukup lama untuk bisa memahami itu semua, meski terkadang sakit tapi aku hanya ingin belajar untuk membuatnya bersedih. Aku belajar untuk tidak menunjukkan setiap kesedihan, mengatakan bahwa everything is ok. Aku belajar bahwa menunggu dia pulang itu menyesakkan, kita bisa dihantui sejuta kekhawatiran, saat ia tak kunjung datang. Dan karena pada akhirnya aku belajar bahwa khawatir merupakan bentuk emosi yang cukup melelahkan. Aku belajar untuk lebih peduli, belajar untuk berusaha selalu menelpon dan mengatakan ‘lagi dimana sayang, ngapain’, hanya untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Aku belajar bahwa pada akhirnya tak semua ketakutan aku itu terbukti. Beberapa diantaranya hanyalah kecemasan yang berlebihan terhadap keengganan akan suatu perubahan.
Semua pelajaran ini tak terhenti sampai disini. Karena masih panjang perjalanan hari. Dan dalam perjalanan itu, kami akan kembali membuat beragam kesalahan. Kami akan kembali berdebat. Kami akan kembali salah paham, kami akan kembali bertengkar. Pun, kami akan kembali berdiskusi, berbicara baik-baik,akan kembali saling meminta maaf. Akan kembali berkompromi. Hhm, tentu saja tak semua kompromi punya solusi melegakan. Pun, tak semua hari berhiaskan romantisme berkilauan. Dan tak semua pelajaran ini juga sempurna hasilnya. Namun, dari sana aku belajar satu hal. Bahwa kami, tak akan berhenti berusaha untuk terus belajar. 
1. SMILE
Memiliki pacar yang kita sayangi dan cintai sangat menyenangkan untuk dijalani. Selama masa berpacaran pasti akan ada berbagai masalah yang datang silih berganti. Jika anda berhasil menjalani itu semua, maka kesuksesan anda adalah menikah dengan doi. Di bawah ini adalah beberapa hal yang perlu anda lakukan agar hubungan anda tetap menyenangkan dan lancar dengan pacar tercinta sehingga dapat menikahinya :
Inget gag waktu itu Bela-belain bangun pagi, just to watch dan Doraemon jam 8..
TV, TV 7, GLOBAL, & TV2 Lokal… ada yg inget Desy Anwar? Ato ada yang pernah ntn : Lion King /
Nintendo (
“BOLO BOLO” by Tina Toon…Di kobok-kobok airnya dikobok-kobok. Ada ikannya kecil2 pd mabok! Joshua!……..
Taaraaaaattttttt……
hALo2 …..Hhhhmmm….daH Lama neY gag Touch bLog…..Lm gaG nuLis…
NgGak Kurus2…padahal udah diet,rajin olahraga, minum segala pil pelangsing diminum….Huuh…sebel nggak seh…Apanya seh yang salah…
Hare gene masih jerawatan, hahaha…Tapi ney bagi yang udah terlanjur dihinggapi jerawat..=-) jangan sedih dulu, coz ternyata ada jurus cukup ampuh ‘tuk ngilangin just a while, especially buat kamu yg jerawatan n gak pengen malu waktu pergi pesta…….hhmm…Let’s see :